Pages

Selasa, 17 April 2018

Tiga Metode Uji Kualitas Air dari adanya E. coli (Nadya Milati Akmalia)

Pencemaran air adalah hal yang sebisa mungkin harus dihindari dari kehidupan sehari-hari. Hal ini karena air merupakan komponen yang paling penting dalam kehidupan. Air paling utama digunakan manusia untuk minum, mencuci, mandi, dan sebagainya. Untuk itu, kualitas air perlu dijaga sebaik mungkin agar tidak menimbulkan dampak yang buruk bagi pengguna air tersebut.
Selain terhindar dari bahan kimia berbahaya dan cemaran lainnya, air juga harus tercemar dari cemaran biologis seperti mikroba. Menurut Sulistyawati (2003), tingkat proporsi angka kuman lebih dari 100 koloni/ml adalah 25,71%, serta sampel yang mengandung bakteri sebanyak 45,71%. Semua air minum sebisa mungkin harus terhindar dari kontaminasi bakteri, terutama bakteri pathogen. Bakteri E. coli biasa digunakan sebagai acuan tercemarnya perairan. Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan berbagai metode.
1.        Membrane Filter Technique
Metode yang pertama adalah membrane filter technique. Chandra (2005) menjelaskan bahwa teknik filter membran ini ditemukan oleh Goetz dari German pada tahun 1947. Teknik ini telah digunakan di berbagai negara sebagai standar dalam pemeriksaan organisme koliform. Prosedur yang dapat dilakukan pada metode ini yaitu, sampel air ±500cc disaring dengan membran khusus yang terbuat dar bahan cellulose ester. Semua bakteri akan melekat di atas permukaan membran. Selanjutnya bakteri yang melekat pada membran itu dipindahkan ke atas kapas atau tissue yang mengandung cairan endomedia/ Eosin Methylene Blue Medium, lalu disimpan dalam incubator selama 20 jam pada temperatur 37oC. Jika terdapat organisme koliform dalam sampel air, maka akan terbentuk koloni-koloni bakteri berwarna merah dan hitam mengkilap (Chandra, 2005).

Gambar 1. Membrane Filter Technique
2.         Multiple Tube Method
Metode yang kedua adalah dengan Multiple tube method. Metode ini memiliki dasar pemeriksaan estimasi jumlah paling memungkinkan (most propable number, MPN) organisme koliform dalam 100 cc air. Prosedur metode ini yaitu dengan menyediakan satu seri tabung yang mengandung media Mc Conkey’s Lactose Bile Salt Broth dan Bromcresal Purple sebagai indikator. Setiap 5 tabung dimasukan sampel air yang akan diperiksa masing-masing sebanyak 0.1 cc, 1 cc, dan 10 cc. Tabung disimpan dalam inkubator selama 48 jam pada temperatur 37oC. Jika dalam sampel air terdapat kontaminasi tinja maka organisme koliform akan memfermentasikan laktosa yang kemudian menghasilkan asam dan gas di dalam tabung. Dari jumlah tabung positif dapat ditentukan MPN organisme koliform dalam 100 cc sampel air.

Gambar 2. Multiple Tube Method
Tabung yang menunjukkan hasil positif diambil sampelnya dan diinokulasikan pada 2 tabung yang berisi Brilliant Green Bile Lactose Broth. Tabung pertama dimasukan ke dalam inkubator selama 48 jam pada temperatur 37oC dan tabung kedua dimasukkan dalam inkubator selama 48 jam pada temperatur 44oC. Bakteri E. coli merupakan satu-satunya organisme koliform yang dapat membentuk gas dari laktose pada temperatur 44oC (Chandra, 2005).
3.         Primary Health Care Technique
Teknik ini pada prinsipnya hampir sama dengan Membrane Filter Technique dan digunakan di lapangan saat terjadi wabah penyakit muntaber dan hanya dipakai sebagai indikator uji pembuktian adanya kontaminasi tinja manusia. Sementara pada tinja manusia sendiri terdapat berbagai bakteri yang dapat lebih mencemari air, termasuk salah satunya adalah bakteri E. coli.


Gambar 3. Primary Health Care Technique

Referensi:
Chandra, Budiman. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Sulistyawati, Dwi. 2003. Studi Kualitas Bakteriologi Air Minum Isi Ulang Tingkat Produsen di Kota Semarang, Tesis. Universitas Diponegoro. Semarang. 

3 metode untuk mengidentifikasi bakteri oleh Tuti Muflihah (1157020075)


MPN coliform complete test

Pemeriksaan MPN coliform adalah pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui perkiraan jumlah terdekat bakteri coli dan coliform dalam 100ml sampel. Dalam melakukan pemeriksaan MPN coliform complete test ada beberapa tahapan yang harus dilalui yaitu :

1. Uji Penduga (Presumptive test)

 Pada tahap ini, pemeriksaan dilakukan menggunakan media Lactose Broth (LB). Media ini digunakan bukan tanpa alasan melainkan dengan tujuan dan fungsi khusus yaitu untuk mendeteksi ada tidaknya bakteri coliform didalam sampel.

2. Uji Penguat (Confirmed Test)

Pada tahap kedua, pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan media Brillian Green Lactose Broth (BGLB). Media ini digunakan dengan maksud untuk media penyubur bagi bakteri coliform sekaligus sebagai media selektif bagi bakteri selain bakteri coliform. Dengan komposisi media yang mengandung laktossa dan garam empedu inilah yang dapat mengizinkan dan mendorong bakteri-bakteri coliform untuk tumbuh secara optimal.

3. Uji Pelengkap (Completed Test

Tahap ini adalah tahap dimana dilakukan pembiakan sampel ke media seperti media Mac conkey ataupun media selektif untuk bakteri jenis Gram negatif batang. Sampel dari media BGLB yang menunjukan hasil positif diinokulasikan pada media Mac Conkey untuk selanjutnya dilakukan identifikasi jenis spesies dari bakteri yang terdapat didalam sampel dengan menggunakan media uji biokimia.

Related image


Selasa, 10 April 2018

PREDIKSI JUMLAH AIR DI DUNIA PADA MASA YANG AKAN DATANG


Ketersediaan air bersih di masa mendatang merupakan hal terpenting bagi kehidupan semua manusia. Air sebagai satu hajat dasar manusia, ketersediaan air bersih adalah hal utama menjamin kelayakan keberlangsungan hidup. Menurut Angela Kearney -Perwakilan UNICEF di Indonesia- kemajuan penting telah dibuat dalam dekade terakhir untuk meningkatkan akses terhadap sumber air dan sanitasi yang baik di Indonesia. Tapi masih banyak orang yang masih tidak mendapatkan haknya yang paling dasar itu. Hanya separuh dari penduduk Indonesia memiliki akses air bersih, dan kurang dari setengah memiliki akses ke sanitasi yang layak. Prioritas utama, menurut UNICEF, harus mencakup pelaksanaan program air, sanitasi dan kebersihan di semua sekolah pada 2020, dengan fokus khusus pada air dan sanitasi bagi masyarakat miskin perkotaan sebagai bagian dari semua program pembangunan perkotaan, dan alokasi sumber daya yang cukup untuk mencapai target air, sanitasi dan kebersihan di tingkat Nasional dan subnasional.  
Pada National Geographic (2016) Peringatan Hari Air Sedunia tiap 22 Maret mengingatkan kembali fenomena krisis air yang mengglobal. Tanpa ada perubahan nyata, baik dalam perilaku sehari-hari maupun dunia industri dengan kebijakan pemerintah yang tepat, pada 2030 kebutuhan air akan lebih besar 40 persen dari jumlah yang tersedia. Dalam artikel Kompasiana.com (2015) menyatakan penggabungan skenario antara data prediksi perubahan iklim dalam beberapa puluh tahun kedepan, dan juga tingkat pertumbuhan sosial ekonomi suatu negara digunakan untuk membuat peta prediksi dan memperingkat negara-negara yang diduga akan mengalami krisis air  sekitar tahun 2040.
Diharapkan seluruh masyarakat Indonesia bisa mengakses air minum yang layak mulai 2019. Target ambisius itu tertuang dalam program 100-0-100, yakni 100% ketersediaan akses air bersih, 0% kawasan kumuh, dan 100% ketersediaan akses sanitasi sehat. Untuk merealisasikan ketahanan air, Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) secara masif membangun bendungan-bendungan di seluruh Indonesia beberapa tahun kedepan. Kondisi ketersediaan air di Indonesia saat ini ialah 56 m3 per kapita per tahun.
Di tahun 2025, kelangkaan air akan lebih terlihat di negara miskin di mana sumber daya terbatas dan perkembangan populasi meningkat, seperti di Afrika, Timur Tengah, dan beberapa bagian di Asia. Pada tahun yang sama, area urbanisasi yang besar akan membutuhkan banyak infrastruktur baru untuk menyediakan air yang aman dan sanitasi yang pantas. Hal ini diperkirakan akan menimbulkan konflik dengan pengguna air di pertanian, yang saat ini menggunakan sebagian besar air yang digunakan oleh seluruh manusia. Kairo mesir pun diperkirakan oleh PBB pada tahun 2025 akan mengalami kelangkaan air, hal tersebut dapat terjadi karena adanya kekeringan yang terjadi secara terus menerus. Sungai Nil yang pernah begitu penting untuk pembentukan salah satu peradaban terbesar di dunia, kini mengalami masalah besar di zaman modern ini. Nil adalah sumber dari 97% kebutuhan air Mesir tetapi juga merupakan hilir dari sampah pertanian dan sampah rumah tangga yang yang tidak diolah.
Dalam majalah Percik, Mardikanto dan Aisyah (2012) pada pendapat yang dikemukakan oleh Ketua Umum Indonesia Water Institute, Firdaus Ali, dalam satu kesempatan mengungkapkan, Jakarta pada 2025 diperkirakan akan mengalami defisit 23.720 liter air per detik. Sementara saat ini ketersediaan air hanya mampu memasok 2,2 persen dari kebutuhan air bersih warganya. Keadaan yang lebh buruk: kantung-kantung ait tidak mengalami pengisian ulang meski turun hujan lebat karena seantero kota penuh dengan beton dan aspal, sehingga lapangan terbukapun tak bias menyerap air hujan.
Dalam artikel BBC Indonesia (2018) menyatakan Menurut data resmi pemerintah, Turki secara teknis sedang mengalami masalah air, karena pasokan per kapita turun hingga di bawah 1.700 meter kubik pada tahun 2016. Para pakar negeri itu memperingatkan bahwa pada tahun 2030, situasi itu dapat memburuk mencjadi kelangkaan air. Dan menurut otoritas London, penggunaan air kota London sudah mepet mendekati kapasitas maksimumnya dan kemungkinan akan menderita masalah pasokan pada tahun 2025, dan mengalami "kelangkaan serius" pada tahun 2040. Kenyataannya sangat berbeda. Dengan curah hujan tahunan rata-rata sekitar 600mm (kurang dibanding rata-rata Paris dan hanya sekitar setengah dari New York), London memperoleh 80% air mereka dari sungai (Sungai Thames dan Lea). Kelihatannya larangan penggunaan selang air di kawasan publik akan lebih umum di masa depan, karena sekarang ini pemborosan air oleh selang-selang pipa umum itu mencapai 25%.
Dalam jurnal Hidayat (2015) Total kebutuhan air bersih untuk semua jenis pelanggan di BPAB unit Kecamatan Rambah, Riau untuk 15 tahun yang akan datang (Tahun 2028) sebesar 436,67 m3 /hari. Kebutuhan air bersih di BPAB unit kecamatan Rambah untuk jangka panjang (2028) jumlah pelanggan 436 pelanggan, kebutuhan air bersih = 444,049723 m3 /hari. Dengan kapasitas resevoir di BPAB unit kKecamatan Rambah Sebesar 1.100 m3 /hari maka dengan kapasitas tersebut masih memenuhi kebutuhan air bersih di BPAB unit Kecamatan Rambah sampai dengan tahun 2028. Faktor kehilangan air pada tahun 2013 sebesar 1,69 % maka diperkirakan kehilangan air untuk jangka jangka panjang (2028) adalah 7,379723 m3 /hari.
Dalam Brahmanja dkk (2013) Faktor utama dari jumlah tingkat kehilangan air disebabkan pipa yang terpasang sudah tua, kondisi tanah yang berbeda – beda sehingga pipa cepat keropos sehingga mengalami kebocoran serta pemakaian yang berlebihan.. Dewasa ini, tiap-tiap negara punya metode sendiri dalam menangani krisis air. Di beberapa negara di mana angin yang menguntungkan terus-menerus bertiup, kincir-kincir angin mengangkat air ke permukaan dan juga berfungsi sebagai generator listrik. Di negara yang lebih kaya, mengubah air laut menjadi air tawar juga dipandang sebagai solusi yang tepat guna. Di banyak tempat, bendungan-bendungan raksasa menampung air sungai dan air hujan, metode yang sedikit banyak terbukti efektif meskipun reservoir di daerah gersang bisa menyusut sekitar 10% karena penguapan.

DAFTAR PUSTAKA
Barhmanja, Anton Ariyanto, Khairul fahmi. 2013. Prediksi Jumlah Kebutuhan Air Bersih BPAB Unit Dalu. Rokan Hulu. Seminar Nasional TI.
BBC Indonesia. 2018. Jakarta dan 10 Kota Dunia Yang Akan Alami Kelangkaan air minum. [http://www.bbc.com/indonesia/dunia-43027843] (Diakses pada tanggal 10 April 2018 pukul 21:14 WIB).
Hidayat Arifal. 2015. Prediksi Kebutuhan Air Bersih Untuk Lima Belas Tahun Yang Akan Datang di Kabupaten Rokan Hulu_Provinsi Riau: SIKLUS Jurnal Teknik Sipil. 1(1): 1-6.
Lion. 2015. Waspada Indonesia Krisis Ar Sebelum 2040 Semakin Nyata. [https://www.kompasiana.com/lionstar/waspada-indonesia-krisis-air-sebelum-2040-semakin-nyata_56291eb850f9fda1058b456d]. (Diakses pada tanggal 10 April 2018 pukul 20:24 WIB).
Mardikanto Aldy, Nur Aisyah Nasution. 2012. Menyelamatkan Air Untuk Masa Depan: Majalah Percik Media Informasi Air Minum dan Sanitasi: KKAM dan Penyehatan Lingkungan (Pokja ANPL) Nasional.
National Geographic. 2016. Ketika Krisis Air di Depan Mata. http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/03/ketika-krisis-air-di-depan-mata. Diakses pada tanggal 10 April 2018. Pukul 20:44 WIB.

makalah pengolahan air


MAKALAH


PENGOLAHAN AIR

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikrobiologi Lingkungan

Dosen Pengampu : Anggita Rahmi, M.Si






Disusun Oleh :

Nafisah tsamrotul fuadah

Nurul mudiah

Nurul fitri khoirunnisa

Novia rahmawati

Nadya milati

Neng fitri Agistina

Tuti Muflihah

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2018

KATA PENGANTAR




Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas ridho-Nya makalah yang berjudul “Pengolahan Air” ini dapat diselesaikan dan diajukan untuk memenuhi tugas matakuliah Mikrobiologi Lingkungan . Terima kasih penulis ucapkan kepada dosen mata kuliah Mikrobiologi Lingkungan yang telah membimbing dalam pembuatan makalah ini. Dan tak lupa pula ucapan terimakasih, penulis ucapkan kepada teman-teman yang telah mendukung untuk penyelesaian makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan mungkin jauh dari sempurna, penulis pun sadar bahwa kesempurnaan hanyalah milik allah SWT. Namun sebagai manusia kita pun harus berusaha mempersembahkan yang terbaik dalam hal apapun. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan banyak manfaat kepada pembacanya.

Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembacanya. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.







Bandung, 10 April 2018







     Penulis









BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maupun untuk kepentingan lainnya seperti pertanian dan indutri. Oleh karena itu keberadaan air dalam masyarakat perlu dipelihara dan dilestarikan bagi kelangsungan kehidupan. Air tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan, tanpa air tidaklah mungkin ada kehidupan. Semua orang tahu betul akan pentingnya air sebagai sumber kehidupan. Namun, tidak semua orang berpikir dan bertindak secara bijak dalam menggunakan air dengan segala permasalahan yang mengitarinya. Malah ironisnya, suatu kelompok masyarakat begitu sulit mendapatkan air bersih, sedangkan segelintir kelompok masyarakat lainnya dengan mudahnya menghambur-hamburkan air.

Air merupakan sumber bagi kehidupan. Sering kita mendengar bumi disebut sebagai planet biru, karena air menutupi 3/4 permukaan bumi. Tetapi tidak jarang pula kita mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau disaat air umur mulai berubah warna atau berbau. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Yang pasti kita harus selalu optimis. Sekalipun air sumur atau sumber air lainnya yang kita miliki mulai menjadi keruh, kotor ataupun berbau, selama kuantitasnya masih banyak kita masih dapat berupaya merubah/menjernihkan air keruh/kotor tersebut menjadi air bersih yang layak pakai.

Di Indonesia, akses terhadap air bersih masih menjadi masalah. Sebagian besar air tawar yang digunakan berasal dari air sungai, danau, waduk dan sumur. Pencemaran oleh  mikroorganisme terhadap badan air maupun dalam suplai air minum merupakan kasus yang sering terjadi, dan saat ini pencemaran dari faktor kimia dan fisika misalnya pencemaran oleh senyawa polutan mikro yang bersifat mutagenik dan/atau yang menyebabkan kanker perlu diwaspadai.

Pesatnya pembangunan wilayah Indonesia dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi membutuhkan air dalam jumlah yang banyak yang sering kali tidak tersedia untuk penduduk, dan juga akibat penggunaan teknologi produksi yang  mana sering tidak atau kurang ramah terhadap lingkungan atau kesehatan masyarakat.

Pengolahan air bersih adalah suatu usaha teknis yang dilakukan untuk memberikan perlindungan pada sumber air dengan perbaikan mutu asal air sampai menjadi mutu yang diinginkan dengan tujuan agar aman dipergunakan oleh masyarakat pengkonsumsi air bersih. Pengolahan air bersih mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 tahun 2010 (PERMENKES 492/2010), yang didalamnya terdapat syarat-syarat air hasil pengolahan penjernihan agar dapat dikonsumsi layaknya air minum (Narita, Kadek, et al, 2011).

1.2    Tujuan

1. Apa yang disebut dengan air?

2.    Apa saja fungsi air ?

3.    Bagaimana karaktristik air?

4.    Apa saja sumber air ?

5.    Bagaimana cara membedakan air bersih dan air kotor?

6.    Bagaimana cara mengolah air?

7.    Bagaimana cara pengolahan air limbah secara sederhana ?

1.3 Manfaat

1.      Untuk mengetahui pengertian air

2.      Untuk mengetahui fungsi air.

3.      Untuk mengetahui membedakan antara air bersih dan air kotor.

4.      Untuk mengetahui sumber air.

5.      Untuk mengetahui cara mengolah air kotor menjadi air bersih.

6.      Untuk mengetahui cara mengolah air bersih menjadi air minum.

7.      Untuk mengetahui cara pengolahan air limbah secara sederhana.




BAB II

ISI

2.1 PENGERTIAN AIR

Air adalah zat kimia yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut.

Air bersih penting bagi kehidupan manusia. Di banyak tempat di dunia terjadi kekurangan persediaan air. Selain di bumi, sejumlah besar air juga diperkirakan terdapat pada kutub utara dan selatan planet Mars. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air merupakan satu-satunya zat yang secara alami terdapat di permukaan bumi dalam ketiga wujudnya tersebut. Pengaturan air yang kurang baik dapat menyebakan kekurangan air.

Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik.

Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air berada dalam kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk ion, air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen (H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion hidroksida (OH-). Manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan memerlukan air untuk hidup. Tenaga air mempunyai arti ekonomi yang besar. Air tidak hanya menyediakan media yang menjadi tempat dimungkinkannya reaksi yang menyokong kehidupan, tapi air sendiri sering menjadi produk atau reaktan yang penting dari reaksi-reaksi itu.

2.2 Fungsi Air Dalam Kehidupan

1.      Mengontrol suhu tubuh

2.      Faktor penting untuk pencernaan dan penyerapan nutrisi ke dalam tubuh. Membawa oksigen dan sari-sari makanan ke seluruh bagian tubuh sehingga semua sel dan organ tubuh termasuk otak, ginjal, jantung, limpa, paru-paru dapat tetap hidup dan berfungsi dengan baik.

3.      Detoksifikasi, membawa sisa-sisa pembakaran tubuh termasuk racun-racun ke alat sekresi sehingga metabolisme tubuh berjalan baik. Ini berarti semua zat yang ada di dalam air minum ikut ke dalam tubuh dan peredaran darah kita.

4.      Fungsi lainnya bagi kesehatan adalah kulit menjadi lebih sehat, membantu penurunan berat badan, menurunkan resiko serangan jantung, membantu sendi dan otot menjadi rileks, melancarkan proses buang air besar dan menambah energi serta kesegaran tubuh.

5.      Sebagai sumber kehidupan di muka bumi.



2.3 KARAKTERISTIK AIR

Karakteristik fisik Air :

1.      Kekeruhan

Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan anorganik dan organik yang terkandung dalam air seperti lumpur dan bahan yang dihasilkan oleh buangan industri.

2.      Temperatur

Kenaikan temperatur air menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobic ynag mungkin saja terjadi.

3.      Warna

Warna air dapat ditimbulkan oleh kehadiran organisme, bahan-bahan tersuspensi yang berwarna dan oleh ekstrak senyawa-senyawa organik serta  tumbuh-tumbuhan.

4.      Solid (Zat padat)

Kandungan zat padat menimbulkan bau busuk, juga dapat meyebabkan

turunnya kadar oksigen terlarut. Zat padat dapat menghalangi penetrasi sinar matahari kedalam air.

5.      Bau dan rasa

Bau dan rasa dapat dihasilkan oleh adanya organisme dalam air seperti alga

serta oleh adanya gas seperti H2S yang terbentuk dalam kondisi anaerobik, dan oleh adanya senyawa-senyawa organik tertentu.

Karakteristik kimia air :

1.      pH

Pembatasan pH dilakukan karena akan mempengaruhi rasa, korosifitas air dan efisiensi klorinasi. Beberapa senyawa asam dan basa lebih toksid dalam bentuk molekuler, dimana disosiasi senyawa-senyawa tersebut dipengaruhi oleh pH.

2.      DO (dissolved oxygent)

DO adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Semakin banyak jumlah DO maka kualitas air semakin baik. Satuan DO biasanya dinyatakan dalam persentase saturasi.

3.      BOD (biological oxygent demand)

BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorgasnisme untuk menguraikan bahan-bahan organik (zat pencerna) yang terdapat di dalam air

buangan secara biologi. BOD dan COD digunakan untuk memonitoring kapasitas self purification badan air penerima.

4.      COD (chemical oxygent demand)

COD adalah banyaknya oksigen yang di butuhkan untuk mengoksidasi  bahan-bahan organik secara kimia.

Reaksi:  + 95%terurai

 Zat Organik + O2 → CO2 + H2O

5.      Kesadahan

Kesadahan air yang tinggi akan mempengaruhi efektifitas pemakaian sabun, namun sebaliknya dapat memberikan rasa yang segar. Di dalam pemakaian untuk industri (air ketel, air pendingin, atau pemanas) adanya kesadahan dalam air tidaklah dikehendaki. Kesadahan yang tinggi bisa disebabkan oleh adanya kadar residu terlarut yang tinggi dalam air.

6.      Senyawa-senyawa kimia yang beracun

Kehadiran unsur arsen (As) pada dosis yang rendah sudah merupakan racun

terhadap manusia sehingga perlu pembatasan yang agak ketat (± 0,05 mg/l). Kehadiran besi (Fe) dalam air bersih akan menyebabkan timbulnya rasa dan bau ligam, menimbulkan warna koloid merah (karat) akibat oksidasi oleh oksigen terlarut yang dapat menjadi racun bagi manusia.

2.4 SUMBER AIR

Banyak sumber air yang bisa dimanfaatkan sebagai air baku untuk air minum, yaitu air hujan, air permukaan dan air tanah. Sumber air dan kualitas dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu: air permukaan, air tanah, dan air hujan. 

·         Air Permukaan

Air permukaan paling banyak dimanfaatkan sebagai air baku karena ketersediaannya lebih banyak, namun secara kualitas lebih buruk karena pengaruh pencemaran dan erosi.

·         Air Tanah

Secara alamiah kualitas air tanah dipengaruhi oleh susunan kimia batuan yang dilalui Air bersihselama proses peresapan. Kualitas air tanah berbeda-beda menurut wilayah batuan dan daerah tangkapannya. Selain proses pelarutan mineral air, tanah juga mengalami proses penyaringan dan pembersihan diri sehingga kualitasnya cukup baik sebagai air minum.

·         Air Hujan

Pada beberapa daerah yang tidak cukup mempunyai sumber air tanah dan permukaan. Air hujan bisa dimanfaatkan untuk keperluan sumber air minum dan rumah tangga. Tekniknya dengan pengumpulan dari atap bangunan. Air hujan bersifat asam dan bersifat lunak.

·         Mata air        

Mata aiar adalah sangat baik bila dipakai sebagai air baku, karena berasal dari dalam tanah yang muncul  ke permukaan tanah akibat tekanan , sehigga belum terkontaminasi oleh zat-zat pencemar.biasanya lokasi mata air erupakan darah terbuka sehingga mudah terkontaminasi oleh lingkungan sekitar.

2.5 AIR BERSIH

Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasan nya, air bersih adalah yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air munum, dimana persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi kualitas air yang meliputi kualitas fisik, kimia, biologis dan radiologis, sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping (Ketentuan Umum Permenkes No. 416/Menkes/PER/1990). Pesyaratan tersebut juga memperhatikan pengamanan terhadap sistem distribusi air bersih dari isntalasi air bersih sampai pada konsumen.

Ditinjau dari sudut ilmu kesehatan masyarakat, penyediaan sumber air bersih harus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat karena persediaan air bersih yang terbatas memudahkan timbulnya penyakit di masyarakat. Volume rata- rata kebutuhan air setiap individu per hari berkisar antara 150-200 liter atau 35-40 galon. Kebutuhan air tersebut bervariasi dan bergantung pada keadaan iklim, standar kehidupan, dan kebiasaan masyarakat

1.      Ciri-ciri Air Bersih

  Jernih, tidak berbau, tidak berasa &tidak berwarna.

  Suhunya sebaiknya sejuk dan tidak panas.

  Bebas unsur-unsurkimia yang berbahaya seperti besi (Fe), seng (Zn), raksa (Hg) dan mangan (Mn).

  Tidak mengandung unsur mikrobiologi yang membahayakan seperti coli tinja dan total coliforms.

2.      Karakteristik Air Kotor

  Berwarna kotor.

  Suhunya panas.

  Mengandung unsur-unsur Fe, Zn, Hg dan Mn.

  Biasanya air ini mengandung campuran zat-zat kimia anorganik yang berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organik berasal dari penguraian tinja, urine dan sampah-sampah lainnya.

  Substansi organik dalam air buangan terdiri dari 2 gabungan, yakni:

           gabungan yang mengandung nitrogen, misalnya urea, protein, amine dan asam amino.

           gabungan yang tak mengandung nitrogen, misalnya lemak, sabun dan karbohidrat, termasuk selulosa.

2.6 Pengolahan Air Kotor Menjadi Air Bersih

Pengolahan air bersih didasarkan pada sifat-sifat koloid, yaitu koagulasi dan adsorpsi. Air sungai atau air sumur yang keruh mengandung lumpur koloidal dan barangkali juga zat-zat warna, zat pencemar seperti limbah detergen dan pestisida. Bahan-bahan yang diperlukan untuk pengolahan air adalah tawas (alumunium sulfat), pasir, klorin atau kaporit, kapur tohor, dan karbon aktif. Tawas berguna untuk menggumpalkan lumpur koloidal sehingga mudah disaring. Tawas juga membentuk koloidal AL(OH)3 yang dapat mengadsorpsi zat-zat warna atau zat-zat pencemar seperti detergen dan pestisida. Apabila tingkat kekeruhan air yang diolah terlalu tinggi maka digunakan karbon aktif di samping tawas. Pasir berfungsi sebagai penyaring. Klorin atau kaporit berfungsi sebagai pembasmi hama (desinfektan), sedangkan kapur tohor berguna untuk menaikkan pH, yaitu untuk menetralkan keasaman ynang terjadi karena penggunaan tawas.

1.        Industri Pengolahan Air Bersih (Perusahaan Air Minum)

Pengolahan air bersih di kota-kota besar pada prinsipnya sama dengan pengolahan air sederhana. Mula-mula air sungai dipompakan ke dalam bak prasedimentasi. Di sini lumpur dibiarkan mengendap karena pengaruh gravitasi. Lumpur dibuang dengan pompa, sedangkan air selanjutnya dialirkan ke dalam bak ventury. Pada tahap ini dicampurkan tawas dan gas klorin (preklorinasi). Poada air baku yang kekeruhan dan pencemarannya tinggi, perlu dibubuhkan karbon aktif yang berguna untuk menghilangkan bau, warna, rasa, dan zat organik yang terkandung dalam air baku. Dari bak ventury, air baku yang telah dicampur dengan bahan-bahan kimia dialirkan ke dalam accelator. Di dalam bak accelator ini terjadi proses koagulasi, lumpur dan kotoran lain menggumpal membentuk flok-flok yang akan mengalami sedimentasi secara gravitasi. Selanjutnya, air sudah setengah bersih dialirkan ke dalam bak saringan pasir. Pada saringan ini, sisa-sisa flok akan tertahan.

Dari bak pasir diperoleh air yang sudah hampir bersih. Air yang sudah cukup bersih ini ditampung dalam bak lain yang disebut siphon, dimana ditambahkan kapur untuk menaikkan pH dan gas klorin (post klorinasi) untuk mematikan hama. Dari bak siphon, air yang sudah memenuhi standar air bersih selanjutnya dialirkan ke dalam reservoar, kemudian ke konsumen.

2.        Pengolahan Air Bersih

Water Treatment Plant atau lebih populer dengan akronim WTP adalah bangunan utama pengolahan air bersih. Biasanya bagunan ini terdiri dari 4 bagian, yaitu : bak koagulasi, bak flokulasi, bak sedimentasi, dan bak filtrasi.

a.         Koagulasi

Dari bangunan intake, air akan dipompa ke bak koagulasi ini. pada proses koagulasi ini dilakukan proses destabilisasi partikel koloid, karena pada dasarnya air sungai atau air-air kotor biasanya berbentuk koloid dengan berbagai partikel koloid yang terkandung di dalamnya. Destabilisasi partikel koloid ini bisa dengan penambahan bahan kimia berupa tawas, ataupun dilakukan secara fisik dengan rapid mixing (pengadukan cepat), hidrolis (terjunan atau hydrolic jump), maupun secara mekanis (menggunakan batang pengaduk). Biasanya pada WTP dilakukan dengan cara hidrolis berupa hydrolic jump. Lamanya proses adalah 30 – 90 detik.

Proses Koagulasi Secara Mekanis dengan mesin pemutar

b.         Flokulasi

Setelah dari unit koagulasi, selanjutnya air akan masuk ke dalam unit flokulasi. Unit ini ditujukan untuk membentuk dan memperbesar flok. Teknisnya adalah dengan dilakukan pengadukan lambat (slow mixin).







c.         Filtrasi

Setelah proses sedimentasi, proses selanjutnya adalah filtrasi. Unit filtrasi ini, sesuai dengan namanya, adalah untuk menyaring dengan media berbutir. Media berbutir ini biasanya terdiri dari antrasit, pasir silica, dan kerikil silica denga ketebalan berbeda. Dilakukan secara grafitasi.

Selesailah sudah proses pengolahan air bersih. Biasanya untuk proses tambahan, dilakukan disinfeksi berupa penambahan chlor, ozonisasi, UV, pemabasan, dan lain-lain sebelum masuk ke bangunan selanjutnya, yaitu reservoir.

d.        Reservoir

Setelah dari WTP dan berupa clear water, sebelum didistribusikan, air masuk ke dalam reservoir. Reservoir ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air bersih sebelum didistribusikan melalui pipa-pipa secara grafitasi. Karena kebanyakan distribusi di kita menggunakan grafitasi, maka reservoir ini biasanya diletakkan di tempat dengan eleveasi lebih tinggi daripada tempat-tempat yang menjadi sasaran distribusi. Biasanya terletak diatas bukit, atau gunung.

Gabungan dari unit-unit pengolahan air ini disebut IPA – Instalasi Pengolahan Air. Untuk menghemat biaya pembangunan, biasanya Intake, WTP, dan Reservoir dibangun dalam satu kawasan dengan ketinggian yang cukup tinggi, sehingga tidak diperlukan pumping station dengan kapasitas pompa dorong yang besar untuk menyalurkan air dari WTP ke reservoir. Barulah, setelah dari reservoir, air bersih siap untuk didistribusikan melalui pipa-pipa dengan berbagai ukuran ke tiap daerah distribusi.

3.        Pengolahan Air Kotor (Limbah Industri)

Kadang-kadang aliran limbah perlu diolah sendiri-sendiri untuk mengurangi konsentrasi beberapa zat pencemar dalam limbah cair. Aliran yang mengandung sulfida dapat dioksidasi untuk mengurangi kadar sulfida. Krom hampir selalu trivalent karena tidak perlu dilakukan reduksi bentuk heksavalennya. Aliran mengandung krom dapat diendapkan dengan menggunakan tawas, garam besi atau polimer pada pH tinggi.

Krom mungkin dapat diperoleh kembali dengan menyaring endapan, melarutkannya kembali dalam asam dan menggunakannya untuk penyamakan. Proses pengolahan primer lain mliputi penyaringan, ekualisi dan pengendapan untuk mengurangi BOD dan memperoreh padatan kembali. Pengolahan secara kimia dengan menggunakan tawas, kapur tohor, fero-chlorida atu polielektrolit lebih lanjut dapat mengurangi PTT dan BOD. Sistem pengolahan secara biologi bekerja efektif.

Keragaman laju alir dan kadar limbah mungkin besar. Karena itu, harus digunakan sistem penyamakan atau sistem laju alir tinggi. Sistem anaerob efektif, tetapi akan mengeluarkan bau tajam dang mengganggu daerah pemukiman. Sistem-sistem parit oksidasi, kolam aerob, sringan tetes dan Lumpur teraktifkan sudah banyak digunakan. Danau (anaerob dan aerob) meruopakan sistem yang murah dan efektif, apabila dirancang dan dioperasikan secara baik dan apabila tanah tersedia. Apabila diperlukan, dapat digunakan suatu sistem untuk menghilangkan tingkat nitrogen yang tinggi.

Dalam operasi baru telah digunakan adsorbsi (penyerapan) karbon dan pengayakan mikro untuk mengurangi zat pencemar sampai tingkat rendah.

2.7 Cara pengolahan air limbah secara sederhana:

Pengolahan air limbah untuk melindungi lingkungan hidup dari pencemaran. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaran air limbah tersebut. Namun demikian, alam tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya sehingga air limbah perlu diolah sebelum dibuang. Beberapa cara sederhana pengolahan air buangan antara lain:

a.       Pengenceran (Dilution)

Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Tetapi dengan makin bertambahnya penduduk, yang berarti makin meningkatnya kegiatan manusia, maka jumlah air limbah yang harus dibuang terlalu banyak dan diperlukan air pengenceran terlalu banyak pula maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi.

Disamping itu, cara ini menimbulkan kerugian lain, diantaranya bahaya kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti selokan, sungai, danau, dan sebagainya. Selanjutnya dapat menimbulkan banjir.

b.      Kolam Oksidasi (Oxidation Ponds)

Pada prinsipnya cara pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar matahari, ganggang (algae), bakteri dan oksigen dalam proses pembersihan alamiah. Air limbah dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk segi empat dengan kedalaman antara 1-2 meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Lokasi kolam harus jauh dari daerah pemukiman dan di daerah yang terbuka sehingga memungkinkan sirkulasi angin dengan baik.

Cara kerjanya antara lain sebagai berikut:

Empat unsur yang berperan dalam proses pembersihan alamiah ini adalah sinar matahari, ganggang, bakteri, dan oksigen. Ganggang dengan butir khlorophylnya dalam air limbah melakukan proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari sehingga tumbuh dengan subur.

pada proses sintesis untuk pembentukan karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh chlorophyl dibawah pengaruh sinar matahari terbentuk O2 (oksigen). Kemudian oksigen ini digunakan oleh bakteri aerobik untuk melakukan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam air buangan. Disamping itu terjadi pengendapan.

Sebagai hasilnya nilai BOD dari air limbah tersebut akan berkurang sehingga relatif aman bila akan dibuang ke dalam badan-badan air (kali, danau, dan sebagainya).

c.        Irigasi

Air limbah dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali dan air akan merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit-parit tersebut. Dalam keadaan tertentu air buangan dapat digunakan untuk pengairan ladang pertanian atau perkebunan dan sekaligus berfungsi untuk pemupukan. Hal ini terutama dapat dilakukan untuk air limbah dari rumah tangga, perusahaan susu sapi, rumah potong hewan, dan lain-lainnya di mana kandungan zat-zat organik dan protein cukup tinggi yang diperlukan oleh tanam-tanaman.

4.        Penyaringan Air

a.       Saringan Kain Katun.

Pembuatan saringan air dengan menggunakan kain katun merupakan teknik penyaringan yang paling sederhana / mudah. Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih. Saringan ini dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.

b.      Saringan Kapas

Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan kain katun, penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Hasil saringan juga tergantung pada ketebalan dan kerapatan kapas yang digunakan.

c.       Aerasi

Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida serta hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi.

d.      Saringan Pasir Lambat (SPL)

Saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan kerikil.

e.       Saringan Pasir Cepat (SPC)

Saringan pasir cepat seperti halnya saringan pasir lambat, terdiri atas lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah penyaringan air terbalik bila dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat, yakni dari bawah ke atas (up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan pasir.

f.       Gravity-Fed Filtering System

Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari Saringan Pasir Cepat(SPC) dan Saringan Pasir Lambat(SPL). Air bersih dihasilkan melalui dua tahap. Pertama-tama air disaring menggunakan Saringan Pasir Cepat(SPC). Air hasil penyaringan tersebut dan kemudian hasilnya disaring kembali menggunakan Saringan Pasir Lambat. Dengan dua kali penyaringan tersebut diharapkan kualitas air bersih yang dihasilkan tersebut dapat lebih baik. Untuk mengantisipasi debit air hasil penyaringan yang keluar dari Saringan Pasir Cepat, dapat digunakan beberapa / multi Saringan Pasir Lambat.

g.      Saringan Arang

Saringan arang dapat dikatakan sebagai saringan pasir arang dengan tambahan satu buah lapisan arang. Lapisan arang ini sangat efektif dalam menghilangkan bau dan rasa yang ada pada air baku. Arang yang digunakan dapat berupa arang kayu atau arang batok kelapa. Untuk hasil yang lebih baik dapat digunakan arang aktif.

h.      Saringan air sederhana / tradisional

Saringan air sederhana/tradisional merupakan modifikasi dari saringan pasir arang dan saringan pasir lambat. Pada saringan tradisional ini selain menggunakan pasir, kerikil, batu dan arang juga ditambah satu buah lapisan injuk / ijuk yang berasal dari sabut kelap

i.        Saringan Keramik

Saringan keramik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat dipersiapkan dan digunakan untuk keadaan darurat. Air bersih didapatkan dengan jalan penyaringan melalui elemen filter keramik. Beberapa filter kramik menggunakan campuran perak yang berfungsi sebagai disinfektan dan membunuh bakteri. Ketika proses penyaringan, kotoran yang ada dalam air baku akan tertahan dan lama kelamaan akan menumpuk dan menyumbat permukaan filter. Sehingga untuk mencegah penyumbatan yang terlalu sering maka air baku yang dimasukkan jangan terlalu keruh atau kotor. Untuk perawatan saringn keramik ini dapat dilakukan dengan cara menyikat filter keramik tersebut pada air yang mengalir.

j.        Saringan Cadas / Jempeng / Lumpang Batu

Saringan cadas atau jempeng ini mirip dengan saringan keramik. Air disaring dengan menggunakan pori-pori dari batu cadas. Saringan ini umum digunakan oleh masyarakat desa Kerobokan, Bali. Saringan tersebut digunakan untuk menyaring air yang berasal dari sumur gali ataupun dari saluran irigasi sawah.
Seperti halnya saringan keramik, kecepatan air hasil saringan dari jempeng relatif rendah bila dibandingkan dengan SPL terlebih lagi SPC.

k.      Saringan Tanah Liat.

Kendi atau belanga dari tanah liat yang dibakar terlebih dahulu dibentuk khusus pada bagian bawahnya agar air bersih dapat keluar dari pori-pori pada bagian dasarnya.










BAB III

PENUTUP

A.    Simpulan

Begitu pentingnya kesehatan, salah satu faktor kesehatan adalah air sebagai salah satu sumber kehidupan di muka bumi ini. Akan tetapi air sebagai sumber kehidupan di bumi ini sudah banyak tercemar karena ulah manusia. Terjadinya berbagai penyakit yang diakibatkan oleh pencemaran air menyebabkan dicarinya solusi untuk mendaur ulang air yang sudah kotor menjadi air yang layak pakai lg dengan tradisional ataupun dengan alat yang canggih.

Pengolahan air bersih melalui beberapa proses diantaranya :

1.         Koagulasi

2.         Flokulasi

3.         Filtrasi

4.         Reservoir

Cara pengolahan air limbah secara sederhana:

1.         Pengenceran (Dilution).

2.         Kolam Oksidasi (Oxidation Ponds).

3.         Irigasi.

Penyaringan Air diantaranya :

1.         Saringan Kain Katun.

2.         Saringan Kapas.

3.         Aerasi.

4.         Saringan Pasir Lambat (SPL).

5.         Saringan Pasir Cepat (SPC).

6.         Gravity-Fed Filtering System.

7.         Saringan Arang.

8.         Saringan air sederhana / tradisional.

9.         Saringan Keramik.

10.     Saringan Cadas / Jempeng / Lumpang Batu.

11.     Saringan Tanah Liat.







DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 1998. Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan, Kantor Menteri

Biro Bina Kependudukan dan Lingkungan Hidup Sekretariat Wilayah Daerah

Tingkat I Propinsi Jawa Tengah, Semarang : Erlangga.

Fandeli, Chafid. 1995. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Prinsip Dasar dan

Pemapanannya dalam Pembangunan. Yogyakarta : Liberty.

Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta.

Suratmo, Gunawan F. 1992. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta : Gajah

Mada University Press.